Menyuburkan Bibit Empati Buah Hati

Spread the love

Pada dasarnya, semua manusia itu egois. Karena itulah ia perlu diajarkan untuk berempati sejak dini. Nah, apakah si kecil sudah diajarkan untuk lebih peka pada kebutuhan orang lain? Belum lama ini di media sosial, seorang remaja putri (ABG) berinisial D mendapat banyak kecaman. Gara-garanya ia menceritakan kekesalannya saat harus memberikan kursi kepada seorang ibu hamil saat berkereta.

Kecaman ditujukan pada posting-an ABG itu yang seperti tidak memiliki empati. Benci sama ibu-ibu hamil yang tiba-tiba minta duduk. Ya aku juga tahu kalo kamu hamil tapi bisa kan berangkat lebih pagi. Ke stasiun yang jauh sekalian biar dapat duduk, gue aja enggak hamil bela-belain berangkat pagi demi dapat tempat duduk. Dasar emang enggak mau susah.. ckckck.. nyusahin orang…

Perlunya Empati Diasah

Terlepas dari posting-an itu, tentu kita sepakat bahwa tidak semua orang mempunyai sikap empati dan bisa berempati pada orang lain. Karena itulah empati perlu dilatih dan dikembangkan. Keraguan apakah anak-anak batita sudah dapat diajarkan untuk berempati, itu wajar. Mengingat batita memang masih dalam fase egosentris. Namun di sinilah tantangan kita sebagai orangtua.

Menariknya, sejak awal kehidupannya, setiap manusia sebenarnya telah memiliki potensi berempati, bahkan bibit empati sudah tampak sejak bayi lahir. Coba perhatikan, ketika seorang bayi menangis, bayi lain yang satu ruangan akan ikut menangis, seolah terdorong untuk bereaksi sama. Inilah bentuk empati yang paling dasar, berbagi emosi dengan yang lain. Potensi ini terus berkembang sering pertambahan usia dan pengaruh lingkungan. Memasuki usia batita, bentuk empati makin nyata (lihat boks).

Tunjukkan Kemurahan Hati

Cara paling efektif menanamkan empati pada si batita adalah dengan memberinya pengalaman langsung. Karena itulah orangtua diminta untuk selalu menjadi panutan yang mulia. Kepeduliankepedulian yang kita tunjukkan pada orang lain, akan ia tiru kelak dalam perilakunya. Berbagilah camilan pada Mbak di hadapan si kecil, ajaklah Mbak makan semeja saat di restoran, dan sebagainya.

Selain menunjukkan berbagi, hal ini menunjukkan bahwa Mbak merupakan bagian dari keluarga yang perlu diperhatikan/dipedulikan. Berkunjung ke tempat anak-anak yang kurang beruntung seperti ke panti asuhan, bersedekah, atau kegiatan-kegiatan lain bisa juga menjadi pilihan untuk menumbuhkan empati pada anak.

Berikan anak kegiatan positif seperti les pelajaran bahasa asing. Lembaga les bahasa asing online terbaik merupakan pilihan yang tepat. Karena di era globalisasi sekarang ini bahasa sangat penting dan diperlukan dimana saja berada.